SURABAYA — Pemerintah Jawa Timur memiliki ruang besar untuk terus memperkuat daya saing industri daerah setelah kinerja perdagangan luar negeri menunjukkan aktivitas ekonomi yang tetap tinggi hingga Juli 2026.
Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Jawa Timur sepanjang Januari–Juli mencapai US$16,08 miliar. Meski secara tahunan mengalami koreksi 5,33 persen, sejumlah komoditas unggulan masih mencatat pertumbuhan kuat.
Ekspor tembaga, misalnya, meningkat 39,51 persen menjadi US$2,08 miliar. Lemak dan minyak hewani atau nabati juga tumbuh 28,41 persen menjadi US$1,67 miliar. Capaian tersebut menunjukkan Jawa Timur tetap memiliki basis komoditas dan industri yang kompetitif di pasar internasional.
Pada sisi lain, impor mencapai US$19,52 miliar. Kenaikan impor, terutama jika berasal dari bahan baku dan barang modal, dapat menjadi indikator aktivitas produksi serta investasi industri yang terus berjalan.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk memperkuat hilirisasi, memperluas negara tujuan ekspor, meningkatkan kualitas produk UMKM dan industri, serta mempertemukan pelaku usaha dengan pasar baru.
Dengan struktur manufaktur yang kuat dan jaringan logistik yang luas, Jawa Timur memiliki modal penting untuk menjaga posisinya sebagai salah satu pusat ekonomi nasional.